
OTO Mounture — Pengembangan Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik (Electric Vehicle/EV) Terintegrasi di Karawang dinilai efektif dalam mendorong industrialisasi nasional sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi yang signifikan bagi Indonesia.
Kehadiran industri baterai domestik membuat Indonesia tidak lagi bergantung pada ekspor bahan baku mineral mentah, melainkan beralih ke produksi bernilai tinggi yang menjadi inti teknologi kendaraan listrik.
Ketua Research Group on Energy Security for Sustainable Development Universitas Indonesia (RESSED UI), Ali Ahmudi, menyampaikan bahwa kebijakan pemerintah dalam melarang ekspor mineral mentah, khususnya nikel, telah menjadi fondasi penting bagi penguatan industri dalam negeri.
Menurutnya, langkah tersebut membuka jalan bagi hilirisasi mineral menuju produk strategis seperti cell battery, yang kini mulai berkembang di berbagai kawasan industri, termasuk Karawang, Jawa Barat.
BACA JUGA: Data Gaikindo 2025: Toyota Masih Teratas, BYD Tembus Enam Besar di Tengah Pasar Lesu
Ali menilai, hilirisasi nikel menjadi baterai kendaraan listrik mampu memberikan nilai tambah belasan kali lipat dibandingkan hanya menjual bijih atau bahan mentah.
“Efeknya sangat besar. Ada peningkatan pendapatan negara melalui PPN, terciptanya lapangan kerja dari proses pabrikasi, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hilirisasi ini harus berkelanjutan agar dampak penggandanya benar-benar terasa bagi ekonomi nasional,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa industrialisasi membutuhkan ketegasan regulasi, agar Indonesia tidak terjebak hanya sebagai negara perakit (assembler) tanpa penguasaan teknologi.
Ali menegaskan, ketergantungan pada produk luar harus dikurangi. Jika teknologi berasal dari luar negeri, maka pabrik harus dibangun di Indonesia agar terjadi transfer teknologi dan peningkatan kapasitas industri nasional.
“Memang akan ada kontraksi bisnis atau ekses jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang ini adalah sebuah keharusan. Indonesia harus naik kelas dalam rantai nilai industri global,” jelasnya.
Ia bahkan optimistis bahwa Indonesia ke depan mampu menghadirkan kendaraan listrik dengan harga sangat terjangkau bagi masyarakat.
BACA JUGA: Penjualan Sepeda Motor Indonesia 2025 Tumbuh 1,3 Persen
Lebih lanjut, Ali, menjelaskan bahwa biaya baterai menyumbang sekitar 35–40 persen dari total biaya produksi EV. Dengan hadirnya pabrik baterai domestik, harga kendaraan listrik diyakini akan terkoreksi secara signifikan.
“Dalam kondisi normal, pembangunan pabrik baterai di Indonesia akan menekan harga jual EV. Jika komponen utamanya bisa ditekan, maka harga unit kendaraan pasti ikut turun,” tambahnya.
Di sisi lain, negara melalui Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID terus konsisten mengawal pembentukan ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi di Indonesia.
Melalui PT Industri Baterai Indonesia (PT IBI), MIND ID bekerja sama dengan konsorsium Contemporary Amperex Technology Co., Limited (CATL), Brunp, dan Lygend (CBL) untuk membentuk perusahaan patungan PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB).
CATIB diproyeksikan menjadi ujung tombak pengembangan industri baterai nasional.
Saat ini, CATIB tengah membangun Fasilitas Produksi Battery Cells, Module, dan Pack dengan kapasitas awal 6,9 GWh pada fase pertama. Fasilitas tersebut direncanakan akan diekspansi hingga mencapai total kapasitas 15 GWh pada fase kedua.
Keberadaan fasilitas ini diharapkan tidak hanya memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional, tetapi juga menempatkan Indonesia sebagai pemain strategis dalam rantai pasok baterai global.
(om/ril)








